Ahad, 13 Oktober 2019

1 Rahsia Angka 7 Dalam Islam


Asy-Syeikh Al-Imamul-ajallu Abu Zahar Muhammad bin Abdulrohman Alhamdanaani, semoga rahmat Allah berlimpah ke atasnya, ketahuilah bahawa Zat Pencipta, Yang sangat besar kekuasaan-Nya, dan sangat tinggi kalimat-Nya serta bersinambungan nikmat-Nya, telah menghiasi tujuh perkara dengan tujuh perkara, dan menghiasinya pula bagi tiap-tiap yang tujuh perkara itu dengan tujuh perkara yang lainnya, untuk memberitahukan kepada orang-orang yang berilmu bahawanya angka tujuh itu mempunyai rahsia yang sangat besar dan kedudukan yang agung di sisi Allah, Maharaja yang memiliki kemudharatan dan kemanfaatan.
1. Allah menghiasi udara dengan tujuh lapis langit, Firman-Nya yang bermaksud: Dan kami bina di atas kamu tujuh buah langit yang kukuh.(AnNabaa’:12). Kemudian Allah menghiasi dengan tujuh bintang, firman Allah yang bermaksud: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang di langit, dan Kami telah menghiasinya (langit itu) bagi orang-orang yang memandangnya.

2. Allah telah menghiasi padang yang lapang dengan tujuh lapis bumi. Firman Allah yang bermaksud : Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.. (Atthalaaq:12). Kemudian Allah menghiasi bumi itu dengan tujuh lautan, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud : Dan laut, ditambahkan kepadanya tujuh laut lagi sesudahnya..(Luqman: 27)

3. Allah telah menghiasi neraka dengan tujuh tingkat, iaitu : Jahannam, Sa’iir, Saqar, Jahiim, Hurhamah, Ladhaa dan Hawiyah. Kemudian Allah menghiasinya dengan tujuh ointu, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud: Ia (neraka) itu mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari neraka. (Al-Hijr:44)

4. Allah telah menghiasi Al-Quran dengan tujuh surah yang panjang, kemudian munghiasinya pula dengan tujuh ayat pembuka kitab (faatihatul-kitaab). Sebagaimana firman-Nya yang bermaksud : Dan sesungguhnyaKami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung. (Al-Hijr: 87).

5. Allah menghiasi manusia dengan tujuh angggota badan iaitu, dua tangan , dua kaki, dua lutut dan satu wajah. Kemudian menghiasinya dengan tujuh peribadatan iaitu dua tangan dengan doa, dua kaki dengan berkhidmat, dua lutut dengan duduk dan muka dengan sujud. Firman-Nya yang bermaksud: Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah). (Al-’Alaq : 19).

6. Allah menghiasi umur manusia dengan tujuh peringkat. Pada masa lahir disebut “radli”, kemudian ‘farhim’, kemudian ‘kuhul’, kemudian ’syaikh’. Dan menghiasi tujuh peringkat umur ini dengan tujuh kalimat iaitu : Ucapan Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasuulullaah. Firman Allah yang bermaksud : Dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa (Laa Ilaaha Illallaah) dan adalah mereka berhak dengan kalimat taqwa itu dan patut memilikinya. (Al-Fath :26)

7. Allah menghiasi dunia dengan tujuh negeri yang besar iaitu : pertama: Hindustan, kedua: Hijaz, ketiga : Bashrah, Badiyah dan Kufah, keempat : Iraq, Syam, Khurasan sampai ke Balakh, kelima: Roma dan Armenia, keenam : Negeri Ya’juj dan Ma’juj, ketujuh : China dan Turkistan. Kemudian Allah menghiasi tujuh negeri itu dengan tujuh hari iaitu Sabtu, Ahad, Isnin, Selasa, Rabu, Khamis dan Jumaat. Dan Allah memuliakan dengan ketujuh hari itu dari para nabi iaitu Allah memuliakan Nabi Musa a.s dengan hari sabtu, Isa bin Maryam a.s dengan hari ahad, Dawud a.s dengan a.s dengan hari isnin, Nabi Sulaiman a.s dengan hari selasa, Nabi Ya’qud a.s dengan hari khamis dan Nabi Muhammad s.a.w dan umatnya dengan hari jumaat.

Rabu, 11 Julai 2018

4 Kriteria Seorang Muazzin


Kekadang terlintas di fikiran, apa motif Astro Oasis mengundang Amy Search untuk mengalunkan Azan di tv. Mungkin dengan niat yang baik bahawa artis juga mampu melaungkan Azan. Namun saya lebih cenderung melihat ia bersifat komersial semata. Masakan tidak, bukankah Astro sendiri mempunya ramai Imam-Imam Muda, mengapa tidak dipergunakan khidmat mereka? Amat tidak sesuai dengan imej Amy sebagai penyanyi rock yang gemar memakai gelang, rantai dan subang ketika beraksi di pentas, dalam masa yang sama menukar imej ketika Azan. Apa-apa pun ia mungkin sekadar untuk siaran tv, maka dengan bersangka baik saja adalah jalan keluar terbaik.
Di sini saya utarakan kriteria yang di perlu dimiliki oleh seseorang untuk menjadi muazzin...
Orang yang beradzan (muadzin) memiliki keutamaan yang sangat mulia di sisi Allah Azza wa Jalla, hal ini berdasarkan keterangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits-haditsnya yang shahih. Di antara keutamaan muadzin adalah:
1. Seluruh makhluk yang mendengar adzan akan menjadi saksi pada hari kiamat.
2. Muadzin akan dipanjangkan lehernya [1] nanti pada hari kiamat.
3. Syetan lari terbirit-birit mendengar suara adzan dan iqamat.
4. Muadzin akan diampuni dosa-dosanya.
5. Muadzin akan mendapat pahala dari seluruh jama’ah yang hadir di masjid tersebut.
6. Muadzin akan mendapat balasan surga dan keluar dari neraka.
Lebih utama mana, muadzin atau imam?
Terjadi perselisihan di antara ulama tentang mana yang lebih utama dari perkara ini. Sebagian ulama mengatakan bahwa kedudukan muadzin lebih utama dari imam. Mereka yang berpendapat seperti ini adalah Imam Asy Syafi’i dalam kitabnya Al Umm, Imam An Nawawi dan juga Asy Syaikh Ibnu Utsaimin.
Sebagian ulama mengatakan bahwa kedudukan imam lebih tinggi. Di antara mereka (dari kalangan mutaakhirin) adalah Asy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajury. Di antara bukti yang menunjukkannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Khulafaur Rasyidin (yang mereka adalah imam) tidak ada satupun yang menjadi muadzin.
Golongan yang mengutamakan muadzin menjawabnya bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan khulafaur rasyidin tidak beradzan disebabkan sibuk dengan urusan umat dan memimpin kaum muslimin, sedangkan muadzin dituntut untuk selalu siaga, cermat, dan berlaku amanah dalam menentukan waktu-waktu shalat sehari semalam. Sehingga menggabungkan ke-imam-an dan adzan bagi seorang pemimpin/khalifah adalah perkara yang berat.
Dalam hal ini Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Andaikata saya mampu untuk beradzan sekaligus memegang pemerintahan niscaya saya akan beradzan.”
Penulis simpulkan, bahwa dalil-dalil yang berkenaan dengan keutamaan adzan lebih banyak. Namun kedua amalan ini masing-masing mempunyai keutamaan. Ada keutamaan adzan yang tak didapat oleh imam dan ada pula keutamaan imam yang tidak didapat oleh muadzin. Wallahu a’lam.
Kriteria Seorang Muadzin
Seorang muadzin hendaknya memiliki sifat-sifat berikut:
1. Muslim dan berakal.
Para ulama menyebutkan bahwa di antara syarat sahnya adzan adalah Islam dan berakal. Sehingga tidak sah adzannya orang kafir atau orang gila. Dalil yang menunjukkan tentang masalah ini adalah firman Allah:
“Dan kalaulah mereka berbuat syirik niscaya gugurlah amalan mereka semuanya.” (Al An’am: 88)
Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Terangkat pena (pencatat amal) dari tiga jenis manusia. Anak kecil sampai baligh, orang yang tertidur hingga dia bangun dan orang gila sampai dia sadar.” (HR. Ahmad dan Ash-habus Sunan)
2. Baik agamanya.
Hendaklah muadzin bersifat adil. Adapun jika muadzin adalah orang yang menampakkan kemunafikan maka para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang rajih adalah yang menyatakan sahnya. Namun jika ada orang yang adil maka tentunya orang tersebut yang diutamakan.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian orang fasiq membawa berita maka hendaklah dia memeriksa dengan teliti.” (Al Hujurat: 6)
Dan dalam riwayat lain dengan lafadz “ujilah kebenaran beritanya”.
3. Baligh.
Syarat yang ketiga, hendaknya muadzin telah baligh. Namun bila keadaan terpaksa, adzan anak kecil yang belum baligh tetap dinilai sah. Pernah terjadi di zaman Nabi, seorang shahabat bernama Amr bin Abu Salamah Al Jurmy menjadi imam pada suatu kaum sementara umurnya baru 6 tahun. Bila anak kecil sah menjadi imam maka sudah selayaknya sah pula untuk jadi muadzin. Begitupun Anas bin Malik tidak mengingkari adzannya anak kecil.
4. Memiliki sifat amanah.
Hendaknya muadzin adalah seorang yang amanah/bisa dipercaya, sebab adzan berkaitan dengan waktu sholat. Adzannya orang yang tidak amanah sulit dipercaya, apakah tepat waktunya atau tidak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Imam adalah penanggung jawab sedangkan muadzin adalah orang yang bisa dipercaya…” (HR. Ahmad (6872), dll dari Abu Hurairah)
5. Bersuara lantang dan bagus.
Hendaknya suara muadzin itu bersuara lantang dan bagus. Demikianlah yang dituntunkan oleh Nabi. Sebagaimana perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abdullah bin Zaid:
“Lakukanlah bersama Bilal, ajarkan kepadanya apa yang kamu lihat dalam mimpimu. Dan hendaklah dia beradzan karena dia lebih tinggi dan bagus suaranya dari kamu.” (HR. Tirmidzi (174) dan Ibnu Majah (698) dari Abdullah bin Zaid)
Dan juga sabda beliau:
“Jika kalian adzan, angkatlah suara kalian karena tidaklah ada makhluk Allah yang mendengar adzan kalian, baik jin, manusia, atau apa saja kecuali masing-masing mereka akan menjadi saksi pada hari kiamat.” (HR. Bukhari (574) dari Abu Said Al Khudri)
Mana yang diutamakan, suara keras atau bagus?
Sebagaimana dibahas pada bab sebelumnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memilih Bilal untuk melakukan adzan, padahal yang melihat dalam mimpi adalah Abdullah bin Zaid dan Umar bin Al Khaththab yang tentunya mereka lebih tahu caranya daripada Bilal. Adapun tentang suara, maka suara Umar juga keras/lantang. Namun demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memilih Bilal daripada Umar. Ini menunjukkan bahwa suara Bilal disamping jeras juga lebih merdu dibandingkan keduanya sebagaimana dalam hadits:
“Sesungguhnya dia (Bilal) lebih lantang dan merdu suaranya dibandingkan engkau (Abdullah bin Zaid).” (HR. Tirmidzi dari Abdullah bin Zaid)
Berdasarkan hadits ini maka disimpulkan bahwa suara yang bagus lebih diutamakan daripada suara yang keras. Jika dua orang sama-sama memiliki suara bagus dan keras maka yang diutamakan adalah yang paling mengerti waktu-waktu shalat, dan begitu seterusnya.
Bolehkah muadzin meminta upah dari pekerjaannya?
Hendaknya bagi muadzin tidak mengambil upah dalam beradzan, karena Allah menjanjikan pahala besar bagi seorang muadzin. Bahkan secara tegas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Jadikan muadzin yang tidak mengambil upah dalam adzannya.” (HR. Abu Dawud (447) dari Utsman bin Abil Ash)
Sebab bila tujuan dari adzan bukan untuk Allah dan hanya mengharapkan dunia semata, maka selain tidak mendapat pahala, orang tersebut akan mendapat siksa dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amalan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang di akhirat tidak akan memperoleh apa-apa kecuali neraka dan lenyaplah semua yang mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang mereka usahakan.” (Hud: 15-16)
Itulah balasan orang yang tujuannya hanya mencari dunia tanpa mengharap pahala di akhirat.
Adapun seorang muadzin yang melakukan adzannya dengan ikhlas untuk Allah namun di lain sisi ia juga meminta upah dari adzannya maka hal ini diperbolehkan. Sebagaimana hal ini dinukilkan oleh Ibnu Qudamah. Demikian pula pendapat Imam Malik, Imam Asy Syafi’i, dan lain-lain.
Terlebih jika dalam negara tersebut terdapat Baitul Mal seperti Saudi, Emirat, Kuwait dll. Negara-negara tersebut menggaji para muadzin, dan tidak ada ulama yang mengingkarinya. Wallahu a’lam.
Ketentuan dan Tata Cara Adzan
Seorang muadzin hendaknya memperhatikan perkara-perkara berikut:
1. Suci dari hadats besar dan kecil.
Sudah selayaknya seorang muadzin dalam keadaan suci dari hadats besar maupun kecil. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang gemar bertaubat dan mensucikan diri.” (Al Baqarah: 222)
Dan dalam hadits disebutkan:
“Suatu hari aku (bilal) berwudlu kemudian aku berdiri untuk melakukan adzan shalat.” (HR. Abu Dawud, hasan shahih)
Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuri menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya wudlu ketika hendak adzan. Bila terpaksa dilakukan dalam keadaan junub maka hukumnya makruh namun adzannya tetap sah.
2. Adzan dengan berdiri.
Disunnahkan bagi seorang muadzin untuk adzan denan berdiri. Sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Berdirilah wahai Bilal kemudian serukanlah adzan untuk shalat.” (HR. Tirmidzi (175) dari Abdullah bin Zaid)
Sebagian ulama mengatakan bahwa kata “Qum” (berdirilah) adalah perintah untuk menunaikan adzan dan bukan perintah untuk berdiri. Maka para ulama mengatakan bahwa disunnahkan bagi muadzin untuk berdiri tapi jika ia melakukan dengan duduk maka adzannya sah.
3. Menghadap kiblat.
Disunnahkan pula bagi orang yang adzan untuk menghadap kiblat. Ibnul Mundzir telah menukilkan ijma’ dalam hal ini. Dan amalan para ulama salaf, ketika mereka membaca Qur’an, bermajelis ta’lim, muraja’ah hadits, dzikir dan sebagainya mereka enggan untuk menghadap selain arah kiblat.
Arah kiblat mempunyai keutamaan, oleh karenanya kita dilarang untuk meludah ke arah kiblat waktu shalat sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Jika kalian dalam keadaan shalat maka janganlah kalian meludah ke arah kiblat.” (HR. Abu Dawud (404) dari Thariq bin Abdillah Al Muhariby)
Sehingga kaum muslimin hendaknya pun melakukan dzikir kepada Allah menghadap kiblat begitu pun tatkala menyerukan adzan yang merupakan syariat yang mulia.
Namun menghadap kiblat bukanlah syarat sahnya adzan, sehingga adzan tetap dinilai sah meskipun muadzin tidak menghadap arah kiblat.
4. Adzan di tempat yang tinggi.
Disunnahkan pula untuk adzan di tempat yang tinggi sesuai dengan hadits yang diriwayatkan dari seorang wanita Bani Najjar ia berkata:
“Adalah rumahku paling tinggi di antara rumah-rumah yang berada di sekeliling masjid. Dan waktu itu Bilal beradzan subuh. Dia datang waktu sahur kemudian duduk di atas rumah untuk melihat fajar. Kalau dia sudah melihat maka dia berjalan untuk beradzan.” (HR. Abu Dawud 435)
Tujuan adzan di tempat tinggi adalah agar suaranya bisa terdengar di segala penjuru. Namun dengan kemajuan teknologi, kini suara adzan bisa dikuatkan dengan mikrofon sehingga suara lebih keras dan menjangkau berbagai penjuru. Adzan yang semacam ini sah. Dan tidak ada ulama zaman ini yang mengingkari hal tersebut seperti Asy Syaikh Ibnu Baz, Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’y, Asy Syaikh Ibnu Utsaimin, Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi dan sebagainya.
5. Memperhatikan tajwid.
Seorang muadzin hendaknya memperlambat bacaan adzan dan mempercepat bacaan iqamah. Dan hendaknya pula seorang muadzin benar-benar menguasai ilmu tajwid. Menerapkan tajwid dalam adzan adalah kewajiban sebagaimana dalam bacaan Al Qur’an. Hanya saja ukuran panjang dari mad far’i (Mad Ja’iz Munfashil) pada bacaan adzan ada ketentuan tersendiri. Para ulama berbeda pendapat. Ada yang menyatakan bahwa yang afdhal adalah 10 harakat atau 14 harakat. Ada pula yang berpendapat bahwa yang lebih utama adalah mengikuti kaidah tajwid yaitu sekitar 6 harakat. Wallahu a’lam.
6. Meletakkan jari-jari di telinga ketika adzan.
Salah satu cara agar suara adzan bisa keras dan bagus adalah dengan memasukkan jari ke lubang telinga. Jumhur ulama mengatakan sunnah bagi muadzin untuk meletakkan jari tangannya ke dalam dua lubang telinganya ketika adzan. Sesuai dengan sabda hadits berikut:
Dari Abu Juhaifah ia berkata, “Aku melihat Bilal adzan dan aku ikuti bibirnya ke arah sini dan ke arah situ dan jari tangannya berada di dalam kedua lubang telinganya.” (HR. Bukhari (598), Muslim (777) dari Abu Juhaifah)
7. Menengok ke kanan dan ke kiri ketika haya’alatain.
Disunnahkan bagi muadzin ketika mengucapkan haya’alatain untuk menengok ke kanan dan kiri tanpa diikuti badannya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Saya berusaha mengikuti bibirnya, mengucapkan ke kanan dan kiri hayya ‘alash shalah – hayya ‘alal falaah.” (HR. Bukhari Muslim dari Abu Juhaifah)
Disebutkan oleh Asy-Syaikh Al-’Utsaimin dalam Asy Syarhul Mumti’, “Tidak sepantasnya bagi muadzin setelah mengucapkan hayya’alatain baru menengok. Ini tidak ada asalnya. Demikian pula ketika salam dalam shalat. Jika ia lupa menengok ke kanan atau ke kiri karema lupa atau tidak tahu hukumnya maka adzannya sah dan bagi yang sudah tahu hendaklah dia mengamalkannya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
[Diambil dengan diringkas dari buku "Adzan Keutamaan, Ketentuan dan 100 Kesalahannya" karya Al Ustadz Abu Hazim Muhsin bin Muhammad Bashori, penerbit: Daarul Atsar, hal. 17-18, 21-23, 49-59, dan 74-76]
____________________
[1] Para ulama berselisih paham dalam memaknakan lafazh “panjang lehernya”,
a) Sebagian ulama memaknai sesuai dhahirnya, bahwa pada hari kiamat para muadzin lehernya paling panjang di antara makhluk Allah yang lain (secara hakiki).
b) Sebagian lagi mengatakan bahwa tatkala manusia berkeringat dan tergenang dalam keringatnya, di antara mereka ada yang keringatnya sampai mata kaki, pinggang, mulut, bahkan sebagian lagi tenggelam dalam keringatnya, maka di saat itulah Allah selamatkan para muadzin dengan dipanjangkan lehernya sehingga mereka tidak ditimpa madlarat sedikitpun.
c) Sebagian lagi mengatakan bahwa para muadzin paling banyak pengikutnya pada hari kiamat.
d) Sebagian lagi mengatakan bahwa para muadzin paling banyak mendapat pahala pada hari kiamat.
e) Sebagian lagi mengatakan bahwa para muadzin termasuk golongan yang paling mulia kedudukannya di akhirat nanti. Wallahu a’lam.
Sumber:fadhlihsan.wordpress.com

Jumaat, 17 Februari 2017

4 Selamat Tinggal Semalam

Di perbatasan liku ini
Semua memaku tangis dan sendu
Kerana sepanjang berkelana
Tercarik duka, pilu dan hiba

Mereka membawa kedukaan itu
Membuang jauh dari lubuk jiwa
Biar tak memamah dan bernanah
Siksanya membawa ke hujung ketika

Cinta, sengketa, berbalah
Juga ketawa, riang, gembira
Cerminan lumrah dunia yang biasa
Kerana akhirnya semua diperhitungkan

Secebis ingatan buat yang tinggal
Adalah pesanan yang berharga
Biar ia memberi ertinya
Bila dikau tinggalkan segala

Semalam adalah detik tertewas
Kerana diri sekian ditindas
Begitu semua yang ada
Bukanlah abadi berseminya

Selamat tinggal semua yang lalu
Hari ini gemawan masih membiru
Seolah memberi harapan baru
Demi langkah kaki takkan kaku

Puisi oleh: Putera Islam

Ahad, 27 Mac 2016

8 Ahli Syurga Sibuk Dengan Keseronokan

Yaa-Siin [55] : Sesungguhnya penduduk Syurga pada hari itu, berada dalam keadaan sibuk leka menikmati kesenangan; Yaa-Siin [56] : Mereka dengan pasangan-pasangan mereka bersukaria di tempat yang teduh, sambil duduk berbaring di atas pelamin; Yaa-Siin [57] : Mereka beroleh dalam Syurga itu pelbagai jenis buah-buahan dan mereka beroleh apa sahaja yang mereka kehendaki;
Keseronokan itu meliputi keseronokan tempat tinggal, pasangan, pakaian, makanan, minuman, perhiasan dan apa sahaja yang diingini oleh ahli syurga.
Tempat Tinggal
Syurga adalah satu tempat yang teduh yang sentiasa dinaungi. Ia tidak panas dan tidak sejuk:
Al-Insan [13] : Mereka berehat di dalam Syurga dengan berbaring di atas pelamin-pelamin (yang berhias), mereka tidak nampak di situ adanya matahari (usahkan hawa panasnya), dan tidak juga merasai suasana yang terlampau sejuk
Makanan 
Didalam syurga diberi makan buah dan daging seperti ikan, lembu dan burung dan di sana tidak perlu kepada tandas:
At-Tuur [22] : Dan (penduduk syurga itu) Kami tambahi mereka (dari semasa ke semasa), dengan buah-buahan dan daging dari berbagai jenis yang mereka ingini.
Daripada Jabir r.a katanya, dia mendengar nabi s.a.w bersabda:”sesungguhnya penduduk syurga makan dan minum di dalamnya. Tetapi mereka tidak meludah, tidak kencing, tidak membuang air besar dan tidak membuang hingus.” Para sahabat bertanya:”Bagaimana makanan yang mereka makan? Jawab baginda:”Keluar dari sendawa yang baunya harum seperti bau kasturi . Mereka selalu membaca tasbih dan tahmid sebanyak tarikan nafas mereka.” (Muslim)
Pakaian dan Perhiasan
Ahli  Syurga memakai sutera (harir)
Al-Insan [21] : Mereka di dalam Syurga memakai pakaian hijau yang diperbuat dari sutera halus dan sutera tebal (yang bertekat), serta mereka dihiasi dengan gelang-gelang tangan dari perak dan mereka diberi minum oleh Tuhan mereka dengan sejenis minuman (yang lain) yang bersih suci.
Pasangan
Setiap ahli syurga mendapat 12 isteri, iaitu 2 dari kalangan perempuan dari dunia dan 10 dari kalangan bidadari.
Dari Abu Hurairah r.a:”Rasulullah saw bersabda:”Golongan yang pertama sekali masuk syurga wajahnya adalah seperti bulan purnama. Dan orang yang masuk sesudah itu seperti bintang yang sangat terang cahayanya. Hati mereka sebagai hati satu orang (bersatu) tidak pernah berselisih dan benci-membenci antara sesama mereka. Tiap-tiap seorang di antara mereka mempunyai dua orang isteri. Masing-masing di antara kedua isteri itu tampak sumsum betisnya dari belakang dagingnya kerana sangat indahnya.”(Bukhari)
Dikatakan kecantikan isteri dunia (perempuan dunia yang solehah) sebenarnya 700 kali lebih cantik berbanding bidadari syurga. Jika kecantikan bidadari itu sendiri sudah tidak terperi, apatah lagi kecantikan isteri dari kalangan perempuan dunia yang solehah.
Perihal Kecantikan Bidadari
Cantiknya bidadari pula dikatakan sehingga, jika sehelai rambut bidadari jatuh ke dunia, manusia boleh menjadi gila (dengan keharuman baunya, gila kerana mencari punca bau itu sepertimana lelaki mencari punca bau perfume wanita).
Jika seorang bidadari memandang ke bumi dari tempat tinggalnya di langit, semua jarak di antaranya akan dipenuhi cahaya dan bau harum. Wajah seorang bidadari lebih cemerlang daripadacermin, dan seseorang boleh melihat bayangannya sendiri di pipibidadari. Sumsum tulang keringnya dapat dilihat mata. (Mishkat)
Dalam satu riwayat…..Mempunyai betis yang tembus, yang sangat indah mata melihat sehingga boleh terlihat sumsum betis dari belakang dagingnya.
Bidadari pula memakai 70 lapis pakaian yang diperbuat dari sutera dan 70 macam warna, namun masih dapat ditembusi pandangan mata suaminya hingga ke tulang sumsumnya.(nampak kulitnya). Tiada kilang di dunia ini yang mampu menghasilkan 70 lapisan kain yang nipis sehingga masih boleh nampak kulit si pemakainya.
kredit: nasbunnuraini.wordpress.com

Khamis, 17 September 2015

3 Cara Rasulullah SAW Tertawa & Bergurau

Imam at-Tirmidzi di dalam kitabnya yang masyhur, Syama’il Muhammadiyyah telah menyenaraikan beberapa hadith yang menggambarkan cara Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam tertawa dan bergurau.  Berikut adalah beberapa hadith yang dipetik dari kitab tersebut:


Cara Rasulullah Tertawa

`Abdullah bin al-Harith berkata yang maksudnya:
“Aku tidak pernah melihat seseorang yang tersenyum lebih banyak daripada Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam.”  (HR at-Tirmidzi) – Hadith ini bertaraf sahih.
`Abdullah bin al-Harith berkata yang maksudnya:
“Tidaklah ketawa Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam melainkan hanya tersenyum.”  (HR at-Tirmidzi) – Hadith ini bertaraf sahih.
Abu Dzar berkata bahawa Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam bersabda yang maksudnya:
Sesungguhnya, aku tahu orang yang pertama masuk ke dalam syurga dan yang paling akhir keluar dari neraka.  Pada Hari Akhirat nanti, seseorang akan dipanggil lalu perintah diberikan kepada malaikat:  “Tunjukkan kepadanya dosa-dosa kecil yang sudah dia lakukan dan sembunyikanlah dosa-dosa besarnya.”
Orang itu diberitahu:  “Pada hari sekian…kamu telah melakukan ini… dan ini…”
Dan orang itu akan mengaku semuanya.  Pada masa yang sama, dia juga berasa bimbang dengan dosa-dosa besarnya.  Selepas itu, perintah selanjutnya (kepada malaikat):  “Berikanlah kepada dia pahala kebaikan bagi menggantikan setiap kesalahan yang dilakukannya.”
Orang itu berkata:  “Sesungguhnya masih ada lagi dosa-dosaku yang tidak diperlihatkan.”
Abu Dzar berkata:  “Pada masa itu, aku melihat Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam tertawa sehingga ternampak gigi geraham Baginda.”  (HR at-Tirmidzi dan Abu Daud) – Hadith ini bertaraf sahih.
Jarir bin `Abdullah berkata yang maksudnya:
“Semenjak aku memeluk Islam, Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam tidak pernah menghalang aku mengunjungi Baginda.  Apabila melihatku, Baginda selalu tersenyum.”  (HR al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi)
`Abdullah bin Mas`ud melaporkan, bahawa Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam bersabda yang maksudnya:
“Sesungguhnya aku mengetahui penghuni neraka yang paling akhir keluar, iaitu seseorang yang keluar dari situ dengan merangkak.  Lalu, dia mendapat perintah, “Pergilah ke Syurga.”  Orang itu pun pergi ke Syurga.  Namun, dia melihat sudah ada orang di rumah-rumah  yang ada di Syurga.  Dia mengadu kepada TUHANnya, “Wahai TUHANku, sudah ada orang di rumah-rumah itu.”
Orang itu ditanya, “Adakah kamu ingat kehidupanmu semasa di dunia?”  Dia menjawab, “Ya.”  Lalu dia diperintahkan kepadanya, “Bayangkanlah (kemahuanmu)!”  Orang itu pun membayangkan keinginannya.  Kemudian, TUHAN berkata kepadanya, “Kamu mendapat apa yang kamu mahukan, bahkan sepuluh kali ganda daripada yang ada di dunia.”  Orang itu membalas, “Wahai TUHANku!  Adakah ENGKAU sedang mempermain-mainkan aku, padahal ENGKAUlah Sang Penguasa?”
`Abdullah bin Mas`ud berkata:  “Ketika itu, aku melihat Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam tertawa sehingga terlihat gigi geraham Baginda.”  (HR al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi) – Hadith ini bertaraf sahih.

Cara Rasulullah Bergurau

Anas bin Malik berkata bahawa Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam pernah berkata kepadanya yang maksudnya:
“Wahai pemilik dua telinga.”  (HR at-Tirmidzi dan Abu Daud) – Hadith ini bertaraf sahih.
Rasulullah memanggil Anas begitu kerana Anas merupakan seorang pendengar yang baik.  Ketika itu Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam sedang bergurau dengan Anas.
Anas bin Malik berkata yang maksudnya:
“Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam bergaul rapat dengan kami, sehingga Baginda pernah berkata kepada adikku yang masih kecil dengan berkata:  “Wahai Abu `Umair, apakah yang sedang dilakukan oleh nughair (sejenis burung yang berparuh merah?””  (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Daud dan at-Tirmidzi) – Hadith ini bertaraf sahih.
Syarah kepada hadith di atas boleh dibaca di sini, in sya’ ALLAH:
Abu Hurairah berkata yang maksudnya:
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah kamu bergurau dengan kami?”  Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam menjawab, “Aku tidak pernah berkata perihal yang tidak benar.”  (HR at-Tirmidzi) – Hadith ini bertaraf hasan.
Anas bin Malik berkata yang maksudnya:
Ada seorang lelaki meminta kepada Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam supaya dibawa menaiki tunggangan.  Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam berkata kepada lelaki itu, “Aku akan beri kamu menunggang anak unta betina.”  Lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang dapat aku lakukan dengan anak unta betina?”  Lalu dijawab oleh Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam, “Bukankah unta betina yang melahirkan unta yang lain?””  (HR at-Tirmidzi dan Abu Daud) – Hadith ini bertaraf sahih.
Anas bin Malik melaporkan yang maksudnya:
Ada seorang lelaki dari kampung yang bernama Zahiran.  Pada suatu hari, beliau datang menemui Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam dan membawa hadiah dari kampungnya.  Apabila beliau pulang, Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam memberi pun bekal kepadanya.  Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam berkata, “Zahiran adalah kampung untuk kita dan kita adalah kota untuknya.”
Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam sangat suka  kepada Zahiran walaupun beliau tidak mempunyai wajah yang menarik.  Pada suatu hari, Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam pergi bertemu dengan Zahiran ketika beliau sedang menjalankan perniagaannya.
Tiba-tiba, Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam memeluk Zahiran dari belakang. Zahiran tidak dapat melihat siapakah orang yang memeluknya dari belakang itu.  Beliau berkata, “Siapakah ini?  Lepaskanlah aku!”  Beliau lalu menoleh dan mengetahui rupa-rupanya Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam yang berada di belakangnya.  Tanpa membuang masa, Zahiran merapatkan lagi badannya dengan dada Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam bagi meraih keberkatan.
Kemudian, Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam berkata, “Siapakah yang mahu membeli hamba sahaya ini?”  Zahiran membalas, “Wahai Rasulullah, demi ALLAH, saya ini tidak laku.”  Jawab Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam, “Tetapi di sisi ALLAH, kamu bukan tidak laku.”  Atau “Tetapi di sisi ALLAH, kamu sangat berharga.”  (HR at-Tirmidzi dan Ahmad) – Hadith ini bertaraf sahih.
Hasan al-Basri berkata yang maksudnya:
Seorang wanita tua bertemu dengan Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, tolonglah berdoa kepada ALLAH agar aku dapat masuk ke Syurga.”  Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam menjawab, “Wahai ibu fulan, Syurga itu tidak dihuni oleh orang tua.”  Mendengar jawapan Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam, wanita itu pergi dari situ sambil menangis.  Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam kemudian bersabda, “Beritahu kepada wanita tua itu, dia tidak akan masuk ke Syurga dengan keadaan usia tua.  Sesungguhnya ALLAH Ta`ala berfirman:  
 
إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً. فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا. عُرُبًا أَتْرَابًا

(Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya)” (HR at-Tirmidzi) – Hadith ini bertaraf hasan.

Semoga dengan meneliti hadith-hadith berikut dapat kita memperbaiki diri kita dalam hal tertawa dan bergurau lalu mencontohi cara insan mulia, Rasulullah sallAllahi `alaihi wasallam lakukannya, in sya’ ALLAH.
ِAllahumma solli `ala Muhammad wa `ala aali Muhammad.


kredit: muzir.wordpress.com

Khamis, 6 Mac 2014

0 Kedudukan Orang Yang Bercinta Kerana ALLAH


Sesungguhnya terdapat banyak hadith Rasulullah SAW yang menerangkan kedudukan dan darjat dua manusia yang saling cinta mencintai kerana Allah. Hadis-hadis ini menggambarkan kedudukan mereka yang mulia dan tinggi yang telah disediakan oleh Allah di dalam SyurgaNya.

Di antara hadis-hadis itu ialah yang menceritakan kisah tujuh golongan lelaki atau wanita yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungannya ketika mana tidak ada lagi naungan yang lain kecuali naungan Allah sahaja.

Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:
"Sebilangan manusia yang dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari kiamat iaitu hari yang tidak ada sebarang naungan padanya selain daripada naungan Allah; di antaranya ialah: Pemerintah yang adil, pemuda yang hidupnya sentiasa dalam mengerjakan ibadah kepada tuhannya, orang yang hatinya sentiasa terikat dengan masjid, dua orang yang berkasih sayang kerana Allah di mana kedua-duanya berkumpul dan berpisah untuk mendapat keredaan Allah, orang yang dipujuk oleh perempuan yang kaya lagi rupawan untuk bersatu dengannya lalu ia menolak dengan berkata:” Aku takut kepada Allah!”, orang yang bersedekah secara bersembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberi oleh tangan kanannya, dan orang yang menyebut atau mengingat Allah dengan keadaan tidak ada dalam ingatannya perkara lain, lalu menitis air matanya kerana mengingatkan sifat Jalal dan sifat Jamal Allah.” (Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud & Ibnu Majah)

Ini adalah dalil dan nas yang jelas menggolongkan dia sebagai orang yang berkasih sayang kerana Allah di kalangan tujuh orang yang baik lagi terpilih untuk dinaungi dibawah naungan-Nya di mana masing-masing orang mengharap sangat lindungan dari matahari yang sejengkal saja dari kepala. Inilah penghormatan dan kemuliaan paling tinggi yang dikurniakan oleh Allah kepada mereka. Di manakah lagi kita akan dapati kemuliaan yang seperti itu ???
Sesungguhnya kemulian ialah hak bagi kedua-dua orang yang berkasih sayang kerana Allah S.W.T. Dimana pada hari tersebut (kiamat) Allah Taala Rabbul Izzah menyeru mereka dan mempersilakan mereka untuk menerima anugerah yang paling tinggi, iaitu pada hari berhimpunnya sekelian bani (anak) Adam di Padang Mahsyar yang maha luas itu.

Di dalam hadis Qudsi yang bermaksud:
"Dimanakah orang-orang yang berkasih sayang kerana kemuliaanku pada hari ini, Aku perlindungi mereka dibawah naungan Ku pada hari yang tiada lagi naungan kecuali naungan-Ku" (Riwayat Muslim)
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muaz dari Rasulullah S.A.W baginda bersabda: "Allah Azzawajalla berfirman: orang-orang yang berkasih sayang kerana kemuliaanku, mereka mempunyai beberapa-beberapa mimbar dari cahaya, sangat dicita-citakan tempat-tempat mereka itu oleh para Nabi, Shiddiqin dan Syuhada." (Riwayat At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Hibban, Hakim)

Dalam Hadis Qudsi yang lain diriwayatkan oleh Ubadah As-Sahamit:
"Kasih sayangKu berhaklah diberikan kepada orang yang cinta mencintai keranaKu. Kasih-sayangKu berhaklah diberikan kepada orang yang sering memperhubungkan tali silaturahim keranaKu. Kasih sayangKu berhaklah diberikan kepada orang yang saling bernasihat keranaKu. Kasih sayangKu berhaklah diberikan kepada orang yang saling berziarah keranaKu. Kasih sayangKu berhaklah diberikan kepada orang yang saling bantu membantu keranaKu. Orang yang cinta mencintai keranaKu berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, sangat dicita-citakan tempat-tempat mereka itu oleh para Nabi, Siddiqin dan Syuhada." (Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban, Hakim, Qudha'i)

Alangkah tingginya kemuliaan mereka. Alangkah sempurnannya ganjaran yang akan mereka dapati kerana mereka berkasih sayang kerana Allah. Sesungguhnya cinta kerana Allah bukan kerana sesuatu yang lain sahaja yang ada dalam hidup ini. Hidup ini adalah hidup yang penuh dengan pelbagai kepentingan diri dan pelbagai perkara yang disukai oleh hawa nafsu. Jadi, cinta kerana Allah dalam suasana yang demikian sangat payah untuk dicapai dan dicari. Tiada siapa yang mampu mencapainya kecuali orang yang telah bersih jiwanya, tinggi semangatnya dan mereka mampu melihat betapa hinanya dunia ini berbanding keredhaan Allah. Tidak hairanlah kalau Allah telah menyediakan bagi mereka darjat yang tinggi sesuai dengan ketinggian mereka didunia dalam mengatasi segala kesibukan dunia yang serba mewah dan penuh dengan perhiasan ini.

Memang orang sifatnya demikian sangat sukar didapati pada zaman ini, meskipun tidak dapat dinafikan mereka itu ada dalam masyarakat kita masa ini, tetapi terlalu sedikit sekali bilangannya. Mereka tidak semestinya datang dari kalangan saudara-mara, atau kaum kerabat sendiri. Tetapi kalau ada memang itulah yang paling baik sekali, supaya hubungan keluargaan itu menjadi lebih erat dan berpanjangan. Memang itu merupakan suatu nikmat, apabila ada seorang saudara sedarah sedaging mengambil berat terhadap saudaranya, masing-masing memberikan perhatian kepada yang lain dalam serba-serbinya di kehidupan ini.

Yang anehnya, bila orang-orang seperti ini datangnya dari luar kaum kerabat, seperti teman rakan dan sahabat yang tiada hubungan darah di antara kita dengannya, tetapi hubungannya dengan kita dan pengambil-beratannya dengan diri kita justeru lebih teguh dan erat dari kaum kerabat sendiri. Itulah tandanya persaudaraannya kerana Allah Ta'ala, yang kerana ikhlasnya dalam persahabatannya itu, dia malah memandang kepada kita. Orang-orang yang semacam inilah yang sangat dikasihi oleh Allah Ta'ala, yang disebutkan dalam sabdanya di atas, bahawa 'Aku akan menaunginya nanti di Hari Kiamat di bawah naunganKu!', firman Allah Ta'ala.

Bertuahlah siapa yang sudah mendapat taufiq daripada Allah untuk bersifat dengan sifat ini. Ini adalah kurnia luar biasa, sebab itulah balasannya juga adalah luar biasa. Kalau sudah dijanji Allah akan mendapat lindunganNya di Hari Kiamat, tentulah hidupnya di dunia ini akan dilindungi Allah pula, supaya dia berjalan di atas jalan yang diridhaiNya, tiada menyelewang dari jalanNya yang lurus. Berbahagialah orang ini, dan mudah-mudahan kita juga akan diberi Allah taufiqNya untuk menjadi orang yang seperti ini, Insya Allah Ta'ala.

Marilah sama-kita renung seketika hadis-hadis Abu Hurairah (R.A) maksudnya: "Bahawasanya ada seorang lelaki yang pergi menziarahi saudaranya (sahabat) di sebuah kampung yang lain, lalu Allah menyuruh malaikat memerhatikannya di atas jalannya. Maka tatkala dia sampai dia berkata : Engkau hendak ke mana ? Lelaki tersebut menjawab: Aku hendak menemui seorang saudara ku di kampung itu. Malaikat bertanya lagi " Adakah engkau telah berbudi kepadanya dan engkau mengharapkan balasannya?" Beliau menjawab " tidak, aku mencintainya kerana Allah" Maka malaikat itu berkata kepadanya "Bahawa sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah kepada engkau, sesungguhnya Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai dia kerana Allah.

Dari kitab Nasihat Agama dan Wasiat Iman oleh Imam Habib Abdullah Haddad :
1) Apabila seseorang mencintai orang lain, bersahabat dan membiasakan diri dengannya, kerana dilihatnya orang itu mencintai Allah dan taat-setia kepada perintah Allah, maka hal sedemikian itulah yang dikatakan bercinta-cintaan kerana Allah Ta'ala.
2) Ataupun jika ia mencintai orang itu dan bersahabat dengannya, kerana orang itu membantunya di dalam selok-belok agama, dan mengarahkannya untuk bertaat-setia terhadap Tuhannya, maka hal sedemikian itu juga dikira bercinta-cintaan kerana Allah.
3) Ataupun jika ia mencintai orang itu dan bersahabat dengannya, kerana orang itu membantunya dalam urusan keduniaan, yang mana dengannya pula ia bisa mengurus urusan akhiratnya, maka itu juga termasuk cinta-mencintai kerana Allah.
4) Ataupun jika ia mencintai orang itu dan bersahabat dengannya, kerana dirinya merasa senang berkawan dengan orang itu, dan dadanya merasa lapang senang berkawan dengan orang itu, dan dadanya merasa lapang bila duduk bersama-sama dengannya.
5) Ataupun orang itu dapat menolongnya di dalam urusan dunianya, dan di dalam hal-ehwal kehidupannya, yang menerusinya ia bisa hidup senang-lenang, maka cinta serupa itu adalah cinta biasa yang tidak ada kena-mengena sedikit pun dengan Allah.
6) Adapun jika ia bersahabat kepada seseorang, kerana orang itu bisa menemannya untuk pergi ke tempat maksiat, atau membantunya untuk menganiaya orang, ataupun memimpin dan menunjuknya ke jalan-jalan fasik dan mungkar, maka persahabatan serupa itu dan kecintaan serupa itu adalah persahabatan dicela dan kecintaan yang tidak berguna, kerana ia menarik kita ke jalan syaitan, yang tidak kena-mengena dengan Allah. Persahabatan dan kecintaan serupa inilah yang akan bertukar menjadi permusuhan di akhirat.
Alangkah besarnya cinta yang sedemikian yang mengangkat manusia sampai ke darjat di mana Allah mencintai dan meredhainya.

Di dalam hadis yang lain Rasulullah SAW menegaskan bahawa sesungguhnya Mahabbah (berkasih sayang) antara orang beriman adalah syarat-syarat iman yang memasukkan penganutnya kedalam syurga.
"Demi yang diriku di dalam genggamannya , kamu tidak akan masuk syurga sehingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman sehingga kamu berkasih sayang. Mahukah kamu aku (nabi) tunjukkan sesuatu yang apabila kamu melakukannya maka akan lahirlah kasih sayang? Sebarkan salam di antara kamu." (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)

Sesungguhnya Rasulullah telah mengetahui dengan pandangan tarbiah yang diperolehi dari Allah, bahawasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat mencabut hasad dengki dari dada, dan kekotoran jiwa kecuali persahabatan yang sejati. Satu nilai persahabatan yang tinggi yang menguasai kehidupan orang Islam yang dibangunkan atas dasar Mahabbah, nasihat menasihati, perpaduan, bebas dari segala tipu daya, hasad dengki, benci membenci dan sebagainya.
Dengan kasih sayang yang gemilang inilah, Rasulullah telah membangunkan generasi Islam yang pertama, satu generasi yang telah menyampaikan langit kebumi (rahmat yang melimpah ruah) dan membina mahligai Islam di alam sejagat. Inilah dia kasih sayang dan perpaduan yang tiada siapa sudi menanamnya didalam hati kecuali Islam. Kasih sayang yang suci lagi kukuh dan cinta yang setia di antara mereka jualah yang akan menjayakan perjuangan mereka.

Rasulullah SAW bersabda maksudnya:
"Perumpamaan orang beriman yang berkasih sayang, dan saling rahmat merahmati dan di dalam kemesraan sesama mereka adalah seperti satu tubuh, apabila satu anggota mengadu sakit, maka seluruh tubuh akan turut merasainya dan membantunya dengan berjaga malam dan demam." (Riwayat Muslim)

Sesungguhnya orang Islam yang menghayati ajaran agamanya akan mempunyai hati dan perasaan yang sentiasa berkobar-kobar untuk mencintai saudara dan sahabatnya. Dia akan menghadapi mereka dengan sepenuh hati dan perasaannya. Inilah asas-asas yang menjadi faktor perpaduan untuk mencapai cinta dan redha Allah di Akhirat kelak.
Fahamkanlah maksud Hadis ini baik-baik, moga-moga Allah merahmati anda! Dan membimbing anda ke jalan yang diridhaiNya, agar anda disayangiNya, serta diberikanNya balasan besar yang memang telah disediakanNya untuk siapa yang disayangiNya. Amin.

Fatwa Saiyidina Umar r.a :
“Orang yang bijaksana,tidaklah dia mahu mencari sahabat melainkan orang-orang yang panjang fikirannya, kuat agamanya, luas ilmunya, tinggi akhalaknya, lanjut akalnya, dan di waktu mudanya bergaul dengan orang-orang yang soleh. Barangsiapa yang melalaikan keteguhan percintaan dari sahabatnya, maka tidaklah dia akan merasai buah persaudaraan orang itu terhadapnya. Barangsiapa yang memutuskan persaudaraan sebab takut dikhianati, maka hiduplah dia dengan tidak bersaudara. Tidaklah ada kesenangan hati yang menyamai kesenangan bersahabat, dan tidaklah ada kedukaan yang melebihi kedukaan apabila putusnya persahabatan itu.”

"Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika bapa-bapa kamu, dan anak-anak kamu, dan saudara-saudara kamu, dan isteri-isteri (atau suami-suami) kamu, dan kaum keluarga kamu, dan harta benda yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu bimbang akan merosot, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, - (jika semuanya itu) menjadi perkara-perkara yang kamu cintai lebih daripada Allah dan RasulNya dan (daripada) berjihad untuk ugamaNya, maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusanNya (azab seksaNya); kerana Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (derhaka)." (At-Taubah:24)

Ya Allah, jauhilah aku dari cinta panahan syaitan, berikanlah cintaku ini kepada seseorang yang sangat mencintaiMu...lapangkanlah hati ku ini dengan cintaMu yg sejati...sekiranya dia bukan Kau ciptakan buatku, maka Kau jauhkan lah dia dari pandanganku dan berikanlah aku kekuatan untuk terus bercinta denganMu.
Doa Rasulullah s.a.w.: Ya Allah, kurniakalah perasaan cinta kepada-Mu, dan cinta kepada orang yang mengasihi-Mu, dan apa sahaja yang membawa daku menghampiri cinta-Mu. Jadikanlah cinta-Mu itu lebih aku hargai daripada air sejuk bagi orang yang kehausan
kredit: http://www.madrasah.idrisiah.edu.my/

Sabtu, 23 Februari 2013

2 Cukupkah Menyambut Maulidur Rasul?


Assalamualaikum... Dalam minggu-minggu ini semua tempat sibuk mengadakan majlis Sambutan Maudidur Rasul SAW. Sungguh seronok melihat ramai yang teruja menyambutnya dan menunjukkan minat dengan turut serta dalam apa-apa pertandingan selingan dan tak ketinggalan rewang masakan untuk dijadikan jamuan sewaktu majlis. Tak lain tak bukan semua itu sebagai lambang yang boleh kita pamerkan bagi menyatakan kecintaan diri terhadap junjungan nabi SAW. Serta tak ketinggalan ada yang menyanyi lagu-lagu selawat yang perbagai melodinya serta berzanji dan berqasidah bagi merancakkan majlis sambutan. Persolannya adakah cukup sekadar itu bagi menunjukkan kecintaan kita terhadap baginda SAW?

Analoginya begini. Seorang suami akan memberi hadiah kepada isterinya, ibu bapa memberi keperluan buat anak-anaknya, guru membantu menunjuk ajar anak muridnya. Semua itu contoh bagi bukti kecintaan yang boleh dipamerkan oleh seseorang kepada seseorang yang lain. Bukti yang 'nampak' itu perlu ditunjukkan tapi percayalah ia hanya perlu bagi manusia sahaja. Kerana lumrah kita inginkan perhatian dan disayangi dengan cara yang begitu, bagi kebanyakannya. Persoalan disambung. Jika begitu apa pula bukti yang kita ini mencintai nabi SAW?

Jika jawapannya ialah dengan mengadakan majlis Sambutan Maulidur Rasul maka ia jawapan yang sedikit tersasar. Adakah cukup sehari saja kita mencintai bagi SAW? Cukupkah sehari ini kita benar-benar beria menunjukkan yang kita menyayanginya seperti selawat banyak-banyak, berzanji, qasidah, nasyid, bercerita, lalu esoknya kita tidak melakukannya lagi? Ketahuilah semua itu tidak bijak untuk dilakukan.

Allah Taala ada menyatakan firmanNya, “qul in kuntum tuhibbunallah fattabi’uni yuhbibkumullah”. Jika kamu mencintai Allah, maka ikutlah aku, nescaya kamu akan dicintai Allah, itu mafhumnya. Tidak ada cara lain untuk menyatakan cinta dan kasih kepada baginda SAW melainkan kita menurutinya. Kita buat apa yang disuruh Allah dan Rasul SAW dan kita tinggalkan jauh apa yang ditegah Allah dan Rasul SAW. Selain itu kita menjadikan baginda SAW sebagai qudwah hasanah. Kita meniru cara nabi berbicara, bergaul, bertingkah laku, personaliti, kerja dakwah dan sangat penting ibadah yang dikerjakan baginda SAW. Kita cuba mengikuti apa yang terdaya buat kita. Masakan sukar? Bukankah baginda juga manusia sama seperti kita? Itulah hikmah mengapa Rasul dilantik dari kalangan manusia dan bukan makhluk lain. Kita akan lebih mudah mengikut dan meniru apa yang dibuat oleh nabi SAW. 

Insya-Allah, dengan mengikuti seluruh sunnah nabi SAW dan diamal secara total dalam kehidupan kita, maka roh mahabbah itu akan bersemadi secara halus dalam sanubari kita, bukan pada sambutan Maulidur Rasul saja bahkan tiap-tiap detik dan saat. Dengan menzahirkan semua itu, mudah-mudahan terbitlah kecintaan yang menebal terhadap Yang Maha Pencipta. Allahu a'lam....Putera Islam
 

FIKRAH PUTERA ISLAM Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates